Megahnya Perpaduan Timur Tengah dan Majapahit di Masjid Agung Al Fattah

Megahnya Perpaduan Timur Tengah dan Majapahit di Masjid Agung Al Fattah

Megahnya Perpaduan Timur Tengah dan Majapahit di Masjid Agung Al Fattah

Megahnya Perpaduan Timur Tengah dan Majapahit di Masjid Agung Al Fattah- Masjid Agung Al Fattah adalah masjid tertua di Kota Mojokerto. Masjid ini dibangun pada masa kolonial Belanda ini berumur 143 tahun.

Sekarang masjid tersebut sudah menjadi ikon Kota Onde-onde karena kemegahan bangunannya yang memadukan budaya Islam Timur Tengah dan Majapahit.

Masjid Agung Al Fattah berdiri megah di depan Alun-alun Kota Mojokerto. Tepatnya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Prajurit Kulon.

Pembatas masjid ini baru selesai awal tahun lalu yang menghabiskan biaya Rp 39,2 miliar.

Pengurus Masjid Agung Al Fattah Sudarno mengatakan, masjid ini direnovasi dengan memadukan kebudayaan Islam Timur Tengah dan Majapahit.

Sudarno mengatakan, bangunan utamanya meniru gaya Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Di mulai dari kubah, menara, serambi hingga bagian dalam masjid.

Bahkan sampai atap teras masjid dibuat menggunakan plat kuningan dengan warna emas. Setiap sisi bagiannya diukir kalimat ‘Muhammad Rasulullah’ dalam Bahasa Arab.

“Kalau bicara tetang Islam dan masjid, asalnya kan dari Timur Tengah sana. Maka kami mengadopsi kebudayaan Timur Tengah, yaitu Masjid Nabawi,” kata Sudarno.

Lanjut Sudarno juga dipadukan dengan kebudayaan Majapahit pada bangunan Masjid Agung Al Fattah. Hal itu nampak pada bangunan pagar depan masjid ini.

Pilar pagar terbuat dari batu besar yang dipahat dengan dimensi 80x80x270 cm. Bagian bawah pagar disusun dari batu besar yang berdimensi 50x50x270 cm.

Sedangkan tembok pagar terbuat dari batu berdimensi 20x300x90 cm.

“Pagar masjid terbuat dari batu Majapahitan semua. Dipahat oleh seniman dari Trowulan yang dulunya pusat kerajaan Majapahit,” ujarnya.

Kebudayaan Majapahit di bagian dalam masjid masih dipertahankan sampai saat ini. Yakni berupa ukiran pada 4 tiang penyangga bangunan lama.

Pada masing-masing soko guru dari kayu jati ini terdapat ukiran yang menurut Sudarno terkait cerita perwayangan.

“Saya tidak tahu arti ukiran itu, tapi seperti pewayangan. Seniman Trowulan yang memahami. Kami tempelkan budaya Majapahit.

Di masjid ini karena kita orang daerah di mana kita berada di Mojokerto yang lekat dengan Majapahit,” ujarnya.

Berkesan mewah sangat kental pada bagian dalam Masjid Agung Al Fattah. Tidak tanggung-tanggung, lantai masjid ini menggunakan marmer yang diimpor dari Italia.

Setiap marmer mempunyai dimensi 240 x 120 x 2-3 cm. Belum lagi ornamen yang dipasang pada bagian dalam kubah dan dinding masjid.

Kabag Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Pemkot Mojokerto Choirul Anwar menjelaskan, Masjid Agung Al Fattah dibangun pada zaman penjajahan Belanda.

Yaitu tahun 1877 masehi. Bangunan asli yang disokong 4 tiang kayu sampai saat ini masih dipertahankan.

“Bangunan asli itu kami pertahankan sampai sekarang karena menjadi situs cagar budaya,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *