Menelusuri Sejarah Gapura Paduraksa Masjid Wali di Desa Jepang

Menelusuri Sejarah Gapura Paduraksa Masjid Wali di Desa Jepang

Menelusuri Sejarah Gapura Paduraksa Masjid Wali di Desa Jepang

Menelusuri Sejarah Gapura Paduraksa Masjid Wali di Desa Jepang – Masjid Jami Wali Al-Mamur Desa Jepang ternyata menyimpan nilai bersejarah. Masjid Wali yang memiliki Gapura Paduraksa itu bangun oleh murid Sunan Kudus, Arya Penangsang. Seperti apa sejarahnya?
Masjid Wali, begitu warga mengenal masjid bersejarah itu, terletak pada Jalan Suryo Kusumo gang 6 Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kudus Jawa Tengah. Masjid ini adalah salah satu tempat wisata religi bahkan dari wisatawan luar Kudus. Untuk sampai ke masjid ini, dari pusat Kabupaten Kudus, traveler menempuh jarak 4 km atau jarak tempuh selama 12 menit berkendara.

Melansir dari https://elbuenumc.org/ Masjid Wali cukup mencolok fasadnya. Traveler bakal melihat Gapura Paduraksa. Istimewanya, gapura tersebut masuk dalam benda cagar budaya dengan tandai papan yang menyebut lindungi UU No.11 Tahun 2020 tentang cagar budaya.

Juru Pelihara Gapura Paduraksa Masjid Jami Wali Al-Ma’mur Desa Jepang, Fatkhur Rokhman Aziz, menuturkan bahwa Masjid Wali itu membangun Arya Penangsang. Arya Penangsang ini merupakan murid kesayangan dari Sunan Kudus.

Masjid Wali di Kudus, Jawa Tengah

“Secara benang merah, dulu Arya Penangsang, beliau ini murid kinasih (kesayangan) dari Sunan Kudus. Beliau itu berasal dari Cepu, Blora, Jawa Tengah,” kata Aziz kepada https://christian-mommies.com/¬† saat kita temui Masjid Wali, Sabtu (10/10/2020).

Sejarah Masjid Wali Jawa Tengah

“Kalau ke Kudus mampir ke sini (Desa Jepang), perjalanan jauh itu mampir ke sini, lalu membuat tempat istirahat dan berdakwah beribadah dan membangun sebuah masjid ini dengan gapura,” ia menambahkan.

“Murid (Arya Penangsang) mengacu kepada gurunya, yakni membuat gapura yang terpadukan kebudayaan Hindu yang terkenal oleh Sunan Kudus. lalu , beliau membangun sebuah masjid lalu ada gapura dan terbangunya masjid. Masjid Wali ini terbangun sekitar abad ke-16,” ia menjelaskan.

Masjid Wali itu tergunakan sebagai tempat ibadah hingga tempat istirahat Arya Penangsang saat dari Cepu, Blora menuju ke Kudus. Selain itu, bahwa Masjid Wali gunakan sebagai tempat pertemuan para wali.

Sejarah Masjid Wali Jawa Tengah

“Dari murid Sunan Kudus lalu menimba ilmu dan murid itu kembali ke asalnya menyebarkan agama islam. lalu , ada cerita rakyat lainnya bahwa juga tempat beberapa wali untuk melaksanakan sebuah pertemuan,” kata Aziz. mengutip dari https://elbuenumc.org/

Masjid Wali juga menyimpan benda-benda tinggalan Sunan Kudus. Delapan antaranya merupakan benda asli. Antaranya adalah Gapura Paduraksa, mustoko masjid, empat saka guru, hingga ada makam kuno. Sementara itu, masjid sudah beberapa kali lakukan renovasi.

Masjid Wali,Kudus, Jawa TengahMasjid Wali, Kudus, Jawa Tengah
Nah, Gapura Paduraksa itu memiliki keistimewaan dengan menggambarkan adanya perpaduan antara ulama dengan kerajaan Demak. Itu tercermin pada bentuk Gapura Paduraksa dengan sisi kanan dan sisi kiri mengapit pintu. Atapnya juga tidak sembarangan, sebagai simbol dari persatuan.

“Gapura ini menurut, Ki Herman Sinung Janutama salah satu guru besar penerjemah serat. Pada tahun 2016 kita datangkan acara pada¬† masjid ini. Gapura ini adalah sebuah gapura yang simbol, sudah adanya perpaduan antara ulama dan umarok,” kata Aziz.

“Antara pangiwo (kiri) dan panengen (kanan). Itu bersatu pada sebuah atap. sisi kanan dan sisi kiri gapura bersatu pada sebuah atap . Perpaduan ini maksudnya ulama ini dari Wali Sanga dan Umarok ini Kerajaan Demak. Itu bersatu dengan sebuah atap,” Aziz menjelaskan.

“Gapura ini gapura perpaduan yang rekso, perpaduan antara ulama dan umarok rekso dengan simbol sisi kanan sisi kiri bersatu oleh atap,” kata ia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *