Sepak Terjang Sultan Cirebon Arief Natadiningrat Lestarikan Seni Budaya

Sepak Terjang Sultan Cirebon Arief Natadiningrat Lestarikan Seni Budaya

Sepak Terjang Sultan Cirebon Arief Natadiningrat Lestarikan Seni Budaya

Sepak Terjang Sultan Cirebon Arief Natadiningrat Lestarikan Seni Budaya – Doa dan dukungan kerabat keluarga hingga masyarakat mengiringi kepergian Sultan Sepuh ke XIV PRA Arief Natadiningrat kepada Sang Pencipta. Sultan Arief meninggal saat menjalani perawatan di RS Santosa Bandung akibat kanker usus.

Satu per satu para pelayan dari berbagai kalangan datang ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Tak terkecuali masyarakat non-muslim yang ada di Cirebon.

Lahir 5 September 1965, sosok Sultan Arief di mata sejumlah kalangan masyarakat sangat dikenal peduli dengan pelestarian adat, seni, dan budaya.

Dalam setiap kegiatan yang diikutinya, Sultan Arief selalu berpesan agar tetap menjaga serta melestarikan warisan seni dan budaya Cirebon.

“Waktu belau mantu kami jadi among tamunya jadi kedekatan kami sudah seperti keluarga,” ujar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Suryapranata, Rabu (22/7/2020).

Semangat dan konsistensi Sultan Arief melestarikan seni dan budaya terlihat dari sepak terjangnya yang menjabat sebagai ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).

Sultan Arief pun menjadi ketua penyelenggara Festival Keraton Nusantara (FKN) selama dua kali di Cirebon yakni tahun 1997 dan 2017.

Suryapranata mengaku, Sultan Arief merupakan sosok pemimpin yang merakyat. Kepedulian Sultan Arief terhadap seni budaya sangat tinggi.

Sultan Arief, kata Surya, merupakan sosok yang mendukung pluralitas. Selain seni budaya, pesan kebinekaan dan pluralisme selalu disampaikan Sultan Arief di setiap kegiatan.

“Pluralitas dan seni budaya itu semangat Sultan Arief semasa hidupnya,” kata dia.

Pastor Paroki Santo Yusuf Cirebon Pst Yulius Hirnawan Christyanto OSC menyampaikan Sultan Arief adalah tokoh budaya yang mencoba menjaga dan membangun kearifan lokal Cirebon.

Yusuf berharap, siapa pun yang menggantikan almarhum merupakan sosok yang tetap menjaga semangat dan amanah terhadap budaya, keberagaman, kearifan lokal, dan ramah terhadap suara hati masyarakat.

Lestarikan Seni Budaya

Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis mengaku, Sultan Arief merupakan sosok yang dewasa. Sultan Arief memiliki karakter seperti orangtua.

“Meski usia Pak Sultan lebih muda dari saya tapi bagi saya pribadi Pak Sultan memiliki watak seperti orangtua,” ungkap Azis.

Semasa hidup, kata Azis, Sultan Arief selalu memberi nasihat kepadanya sebagai seorang pemimpin. Salah satu hal yang paling diingat ketika Sultan Arief menasihati sembari merengkuh bahunya.

“Saya sering diberi nasihat, sambil pegang pundak saya dan tindakan itu merupakan ciri khas orangtua kepada anak,” ujar.

Dalam mengawal pemerintahan, Sultan Arief dianggap sebagai penyeimbang. Sultan Arief sosok yang selalu mendorong sektor kebudayaan.

“Beliau berpesan untuk selalu melestarikan budaya itu merupakan niatan luhur untuk mengembangkan pariwisata Cirebon,” ujar dia.

Sosok Periang

Pesan lain yakni agar menjadi pemimpin yang bermanfaat untuk orang lain bukan untuk kekuasaan. Dua pesan tersebut, kata Emil hingga saat ini masih terus diingat.

“Sampai saya sekarang jadi Gubernur Jawa Barat dan saat ini secara simbolis saya melepas jenazah ke peristirahatan terakhir,” ujar dia.

Selain konsisten terhadap pelestarian seni budaya dan pluralisme. Sultan Arief juga dikenal sebagai orang memiliki selera humor yang tinggi.

Sultan Arief dikenal ramah dan terbuka bagi setiap tamu yang ingin bertemu dengannya.

“Sosoknya ramah disela obrolan beliau kadang suka bercanda dan membuat orang tertawa,” kata salah seorang pelayat, Fiqri.

Sultan Arief meninggal dunia pada usia 55 tahun. Arief meninggalkan seorang istri bernama Raden Ayu Isse Natadiningrat. Arief dikarunia empat anak yaitu Raja Luqman Zulqaidin, Ratu Raja Fatimah, Pangeran Raja Muhamad Nusantara, dan Pangeran Raja Arief Rachmanudin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *